Max Sopacua: Di Usianya Yang 90 Tahun, PSSI Kok Malah Makin Amburadul
Sebagai orang yang pernah berada di lingkaran sepakbola nasional dengan posisi sebagai wartawan dan reporter olahraga termasuk cabang sepakbola sejujurnya saya prihatin melihat kondisi persepakbolaan Indonesia semakin menyedihkan.
Di usianya yang ke-90, PSSI lahir tanggal 19 April 1930, kok saya melihat sepakbola Indonesia makin amburadul. Baik secara organisasi maupun prestasi, keduanya saya lihat dalam kondisi memprihatinkan. Buruknya prestasi tak lepas dari buruknya organisasi. Semestinya di usianya yang sudah 90 tahun, PSSI secara organisatoris lebih matang dan dewasa sehingga mampu membawa sepakbola Indonesia pentas dunia seperti menjadi idaman para pendiri PSSI itu sendiri dan juga masyarakat sepakbola.
Saya mengikuti perjalanan PSSI dengan tiga ketua umum, mulai Kardono (1983-1991), Azwar Anas (1991-1999) dan Agum Gumelar (1999-2003). Meskipun bukan sebagai pengurus saya selalu berusaha berada di garda terdepan karena ada kepentingan terhadap informasi yang harus di publish lewat TVRI..
Maklum saja karena pada era itu TVRI sangat berperan mengingat belum ada TV swasta.
Kardono sebagai Ketum PSSI sangat friendly dengan wartawan. Biarpun saya pernah dengar dari kawan-kawan wartawan bahwa beliau sangat marah kepada saya.
Pak Kardono yang mantan Sekretaris Militer (Sekmil) Presiden itu sempat mengatakan ”Saya tidak mau ketemu dengan reporter TVRI yang Ambon itu. Maksud Pak Kardono tentu sayua. Saya sebenarnya tahu kemarahan beliau dan itu terjadi karen wawancara live di TVRI membahas evaluasi tahunan perkembangan PSSI.
Sebenarnya pertanyaan yang memojokan beliau bukan dari saya tapi dari bung Valens Doy (almarhum) yangg juga adalah redaktur olahraga di harian umum Kompas dan selalu saya undang sebagai pengamat .
Hari itu saya bersama Bung Valens Doy dan Ketum PSSI Kardono terlibat pembahasan serius terkait bagaimana pengembangan sepakbola Indonesia ke depan.Kita tentu masih ingat bahwa di era pak Kardono mulai dikembangkan apa yang namanya Touching Football. Artinya pemain mulai dididik bermain dengan sistem dari kaki ke kaki dalam jarak pendek tapi disesuaikan dengan kemampuan pemain
Waktu itu tim Indonesia baru menderita kekalahan dari tim tamu yang bertandang ke Indonesia. (maaf saya lupa dari mana) ?. Dan pertanyaan yang saya ajukan adalah seputar evaluasi terhadap kekalahan tersebut.
Jawaban beliau bahwa memang kita kalah dalam jumlah gol tapi kita bangga dengan touching football yang diperagakan para pemain di lapangan. Jawaban Pak Kardono langsung disambar sama Valens Doy yang memang dikenal sosok wartawan super kritis.
“Pak main bola itu kan untuk bikin gol sebanyak banyaknya, kok bapak bangga dengan touching yang banyak tapi tidak menghasilkan gol ?.”
Disitulah beliau tidak senang dan minta dihentikan wawancaranya. Saya pun terpaksa mengakhiri live intervew tersebut sebelum waktunya.Wawancara tersebut sempat menjadi viral di kalangan wartawan khususnya para peliput sepakbola nasional. Ada yang menyalahkan kenapa tidak memotong pertanyaan Valens Doy atau dituduh sengaja membiarkan dan lain-lainl.
Memang Valens Doy adalah wartawan dan pengamat olahraga yang paling kritis di era itu.
Sekjen PSSI Nugraha Besoes pun telepon saya minta datang. Menurut kang Nunuk, ”
“lu ketemu ketum deh minta maaf kalau lu dianggap salah. Okelah saya ikuti, karena menjelang akhir tahun dan beliau rencana mau libur maka saya perlu segera. Waktu pertemuannya pun diatur oleh sekjen.
Beberapa hari kemudian kang Nunuk kabarin bahwa beliau bersedia bertemu saya. Dengan didam didampingi Sekjen PSSI saya menghadap pak Kardono dan menjelaskan segala nya. Pak Kardono pun mengerti situasinya dan selesailah.
Intinya, Pak Kardono memahami betul peran dan fungsi media sebagai kontrol sosial dan PSSI sebagai organisasi paling bertanggungjawab atas maju mundurnya prestasi sepakbola nasional tentu amat membutuhkan dukungan media.
Alhasil komunikasi yang baik dibangun oleh Pak Kardono selama dua periode memimpin PSSI berbuah manis, timnas Indonesia dua kali merah medali emas SEA Games yakni 1987 Jakarta (emas perdana timnas sepakbola sejak ikut pesta olahraga terbesar di kawasan Asean) itu dan 1991 Manila, Filipina serta semifinalis Asian Games 1986 Seoul, Korsel. (Bersambung). (Max Sopacua adalah mantan wartawan/reporter/presenter olahraga TVRI, Media/Humas KONI Pusat era Ketua Umum Wismoyo Arismunandar, Waketum Partai Demokrat, anggota DPR-RI dua periode (2004-2014).
source https://www.tribunolahraga.com/2020/05/18/sepak-bola-nasional/max-sopacua-di-usianya-yang-90-tahun-pssi-kok-malah-makin-amburadul/

No comments:
Post a Comment