Mengenal Sistim Precision, Oleh : Bert Toar Polii
Tahun 70an Sistim Precision mulai terkenal di Indonesia. Hampir sebagian besar pemain bridge saat itu bermain sistim ini.Bahkan seluruh pemain tim nasional bermain sistim ini kecuali pasangan Ferdy Waluyan-Denny Sacul yang memilih bermain sistim Quadri Livorno.
Kesan bahwa pemain Indonesia bermain sistim Precision bahkan sudah mendunia. Tahun 1990 ketika penulis ikut World Bridge Series di Geneva, Swiss bertemu melawan pemain dari Polandia.
Ketika tahu dari Indonesia, ia dengan yakin menyebut pasti bermain Sistim Precision dan penulis tinggal mengangguk saja.Sistim Precision ditemukan oleh C.C Wei seorang pemain bridge asal Shanghai China yang pindah ke Amerika Serikat sekitar tahun 50an.
C.C Wei penasaran dengan dominasi Blue Team Italia saat itu. Ia kemudian bertanya kepada pakar bridge Albert H. Morehead yang jadi editor kolom bridge The New York Times.
Saat itu ia mendapat jawaban, banyak pemain bagus seperti pemain Italia di Amerika Serikta. Mereka kalah karena sistim yang digunakan.Seperti kita ketahui Bersama, hamper semua anggota timnas AS waktu itu menggunakan sistim standard sedangkan Italia memakai artificial sistim seperti Roman Club, Blue Club dan lain-lain.
Berawal dari sini, C.C Wei membuat sistim Precision untuk mencoba mengalahkan dominasi Italia. Buku pertama tentang Sistim Precision diterbitkan tahun 1967.Ia kemudian merekrut pemain dari Taiwan dan Amerika Serikat untuk memainkan sistim ini. Tim Taiwan berhasil menjadi runner-up Bermuda Bowl tahun 1969 hanya kalah dari Blue Tim Italia.
Sukses ini ditambah prestasi 3 tim Amerika Serikat di Kejuaraan Nasional Amerika Serikat menambah popular sistim ini.
Namun dalam perjalanannya, sistim Precision terus berkembang. Di awali dengan Precision versi C.C Wei kemudian muncul Super Precision dari Garozzo-Beladona selanjutnya ada Power Precision dari Sontag-Weichsel dan yang paling rumit versi dari Meckstroth-Rodwell atau lebih dikenal dengan Meckwell.
Intinya tetap 1C = Strong dengan berbagai konvensi seperti Alfa, Betha, Gama, The Unusual Positive dan lain-lain, Pembukaan 1D, 1NT, 2C dan 2D ini berkaitan erat.
Karena ketika di awal main weak NT maka buka 1D minimal 4 lembar. 2C = 5+C + 4 kartu major atau 6+ kartu C.
Pembukaan 2D dipakai untuk three suiter pendek D.Persoalan muncul ketika ada yang mau main Strong NT, otomatis strukturnya berubah dimana 1D menjadi minimal 2 lembar.
Belum lagi ketika muncul persoalan problem rebid ketika buka 1H dan partner response 1NT forcing dan pegangan opener 4 kartu S 22.
Muncul ide untuk menggunakan Flannery 2D atau 2H. Masalahnya bagaimana dengan Weak Two Major.Ada yang membuat jalan keluar 2H sebagai Flannery atau 3 suiter pendek D sedangkan buka 2D menjadi Multi atau weak two major yang bisa ditambah dengan Strong Balance atau 3 suiter.
Persoalan lain muncul ketika ada pendapat pembukaan 2C tidak baik dengan 5 lembar club harus minimal 6 kartu.Ini menyebabkan 1D menjadi sampah karena bisa dengan 0 atau 1 lembar D.
Apapun pilihannya akan sangat tergantung partnership. Silahkan mencoba. (Penulis adalah pemerhati dan pemain bridge).

No comments:
Post a Comment