Bagaimana GABSI Berdiri? Oleh : Bert Toar Polii

Belum tersedia data kepustakaan yang akurat sejak kapan permainan Bridge secara tepatnya masuk ke Indonesia.
Namun bisa dipastikan bahwa sekitar pasca tahun1880-an, permainan Bridge mulai terbawa oleh bangsa Eropa, atau tepatnya Belanda yang saat itu menjajah Indonesia.
Dengan demikian, usia permainan ini di Indonesia sudah dikenal cukup lama. Walaupun pada awalnya hanya di kalangan yang sangat terbatas.
Kehadiran Bridge yang merupakan alur budaya internasional, memiliki daya tarik dan pesona tersendiri.
Terutama bagi mereka yang senang menghadapi tantangan rasio dan olah pikir.
Bagaimana seorang pemain harus berangkat dari potensi riel kartu yang dipegangnya, dipadu plus point kartu partner untuk memperkirakan suatu kontrak dan mengelola trik demi trik, secara sabar, tekun, cermat, disertai konsentrasi dan ketabahan yang berkesinambungan agar kontrak terpenuhi.

Prinsip kerja keras, cerdas, cepat dan purna dengan sikap “do it now and do it right”, akan menjadi perilaku keseharian bagi pemain Bridge yang berhasil mengadaptasi olahraga ini dalam praktek keseharian di tengah masyarakat.

Pada tanggal 12 Desember 1953, Willy Th. Roring, perwira TNI-AL, beserta rekan-rekannya mendirikan suatu organisasi olahraga Bridge yang dinamakan Gabungan Bridge Seluruh Indonesia, disingkat GABSI. Susunan pengurus GABSI waktu itu terdiri dari:
W.Th. Roring (alm) selaku Ketua; G.A. Muntu (alm) Wakil Ketua; H.V. Muntu (alm), Sekretaris; Rasyid Doenggio (alm), Bendahara; R. Satrijo (alm) Komisaris; R.Ch. Hardjono (alm) Bagian Teknik/Pemimpin Pertandingan, yang kelak juga menjabat Komda (sekarang Pengda) GABSI Jatim hingga tahun 1961. Selain itu juga terdapat beberapa anggota pengurus lainnya seperti Liem Kiem Lie (alm) bagian Teknik, dan Bintangsah (alm).

Pada waktu berdirinya, GABSI hanya memiliki satu anggota, Gabungan Bridge Surabaya. Kemudian menyusul Ikatan Bridge Malang (sekarang Gabungan Bridge Malang), dan disusul lagi dengan bergabungnya Gabungan-Gabungan Bridge di Jawa Timur, yaitu Jember, Banyuwangi, Kediri, Madiun, dan Jombang.

Saat itu GABSI baru dapat menyatukan Gabungan-Gabungan Bridge yang berada di Jawa Timur, karena pada masa itu, sarana komunikasi masih sukar.Antara tahun1954-1956, ketika bapak Willy Roring bertugas di Makasar (sekarang Ujungpandang), beliau menyaksikan bahwa permainan Bridge ternyata cukup populer di sana, sehingga berhasil dihimbau untuk bergabung menjadi anggota GABSI, dengan nama Gabungan Bridge Makasar. Ini merupakan anggota dari luar Jawa yang pertama.

Jateng dan Yogyakarta

Bila sewaktu GABSI berdiri anggotanya hanya terdiri dari Gabungan-Gabungan Bridge di Jawa Timur, bukan berarti kegiatan atau perkumpulan Bridge di daerah lainnya tidak ada. Di Semarang, Yogya, Solo dan Salatiga terdapat cukup banyak perkumpulan Bridge. Tokoh-tokoh pembina di Semarang antara lain Dr. A.G.F. Andoe (alm), Johny Anwar (alm), Fred Ameln (alm), Tan Tiek Hien (alm), dan Teguh Santoso.

Di Salatiga, pembina utamanya Lie Pok Gie. Atas inisiatif Fred Ameln, mereka bersama-sama mendirikan Gabungan Bridge Semarang yang terdiri dari dua perkumpulan. Pada tahun 1956, di Semarang, atas prakarsa Johny Anwar dan Fred Ameln, dua-duanya merupakan periwra Polisi yang sangat keranjingan bermain Bridge, telah diselenggarakan Kejuaraan Bridge se-Jawa. Kegiatan ini sama sekali di luar kegiatan GABSI karena pada waktu G.B.

Semarang belum tergabung induk organisasi GABSI. Kejuaraan Bridge s-Jawa tersebut diluar dugaan diikuti oleh Perkumpulan-Perkumpulan Bridge dari Jatim, Yogya, Jateng dan Jabar, termasuk Jakarta. Ini merupakan suatu “blessing in disguise”, karena sejak itu berita tentang berdirinya GABSI tersebar luas di kalangan peserta, dan melahirkan motivasi untuk bersatu dan mendukung adanya GABSI.

Di Yogyakarta yang pernah menjadi Ibukota Republik Indonesia, peminat Bridge cukup banyak. Salah seorang tokoh pendiri Gabungan Bridge Yogyakarta adalah Bapak Jenderal TNI Sarbini, yang waktu itu masih berpangkat Kolonel. Di kota gudeg inilah pada tanggal 17 Agustus 1957, untuk pertama kalinya diselenggarakan Kejuaraan Nasional Bridge Pasangan, dengan mengambil tempat di Sasana Hinggil Kesultanan Yogyakarta sebelah selatan. Untuk selanjutnya, diputuskan bahwa Kerjurnas Pasangan diselenggarakan setiap dua tahun sekali, pada tahun ganjil, dan Kejurnas Pasangan II diselenggarakan tahun1959 di Surabaya.

Solo

Bila Surabaya tempat lahirnya GABSI, Semarang penyelenggara Kejuaraan se-Jawa yang pertama, dan Yogya tuan rumah Kejurnas Pasangan Pertama, di Solo masyarakat bridge memiliki kebanggaan tersendiri.

Pada hari Kamis tanggal 1 Juli 1954, di Solo berdiri Perikatan Bridge Surakarta disingkat PBS (sekarang GABSO, Gabungan Bridge Solo). PBS merupakan gabungan dari beberapa perkumpulan Bridge di kota Solo. Ketuanya adalah Bapak Letkol Soeharto, Komandan Resimen XV (sekarang Bapak Jenderal Pur.Soeharto, Presiden RI). Wakil Ketua: Lubis, Komisaris Polisi Karesidenan Surakarta; Penulis: Rusman, Pegawai Djawatan Sosial; Bendahara: Abdul Wahab Gani, Kepala Djawatan Pekerdjaan Umum; Pemimpin Pertandingan: Mardikusumo Madyotaman: Komisi Teknik: Redjo, Guru SR (SDD) Banjarsari; Komisaris: Kapten A. Boesro dan Sutarto.

Selain di organisasi Bridge, Pak Harto dan Pak Gani juga aktif sebagai pengurus Persis (Persatuan Sepakbola Indonesia Surakarta).

Jakarta

Jakarta merupakan kota besar yang paling banyak memiliki perkumpulan Bridge, antara lain Manguni, Harmoni, Maesa, Tjikini. Namun salah satu yang terbesar adalah Bataviase Bridge Bond yang berpusat di Hotel Dharma Nirmala. (Sekitar tahun 70-an hotel ini dirubuhkan, kemudian dibangun Gedung Dewan Pertimbangan Agung).

Pada tahun 1954, Bataviase Bridge Bond dibubarkan dan namanya diganti menjadi Gabungan Bridge Djakarta (GBD). Ketua GBD yang pertama Bapak Soedardjo, yang kemudian digantikan oleh Ir. Inkiriwang (alm). Urutan ketua selanjutnya, D.B. Masengi (alm) dan Fred Ameln (alm).

Pada tahun 1958, ketika di Bandung diselenggarakan Kejurnas Bridge Empat Kawan, GBD resmi menjadi anggota GABSI. Selanjutnya, menjelang Kejurnas Antar Kota dan Kongres GABSI tahun 1970 di Bali, GBD dibagi dalam lima Gabungan sesuai jumlah wilayah di DKI Jakarta, yaitu G.B. Jakarta Pusat, G.B. Jakarta Barat, G.B. Jakarta Selatan, G.B. Jakarta Timur dan G.B. Jakarta Utara.

Pelaksana keputusan Kongres tersebut adalah Drs. Fred Ameln (alm), Amran Zamzami SE dan Ch. Bahasoean. Komda GABSI DKI Jakarta yang pertama adalah Wie Kian Hay (Kihan Wibawa), kemudian digantikan oleh P.M. Tangkilisan (alm).
Tahun 1972, istilah Komda diganti Pengurus Daerah (Pengda) dan Ketua Pengda GABSI DKI yang pertama adalah Abd. Madjid SH (1972-1974).

Bandung

Gabungan Bridge Bandung menjadi anggota GABSI pada tahun 1957, ketika mengikuti Kejurnas Bridge Pasangan di Yogyakarta. Pada kesempatan itu pula GBD menawarkan diri untuk menjadi tuan rumah Kejurnas bridge empat Kawan pada tahun 1958. Pada kejurnas ini, para pemenang mendapat hadiah berupa bingkisan berharga, antara lain tiket Kereta Api semua jurusan di Jawa untuk selama satu tahun, dan bingkisan lainnya.

Mulai tahun 1962, PB GABSI yang semula berkedudukan di Surabaya, dipindahkan ke Bandung. Bapak Kusno Utomo ditunjuk sebagai Ketua Umum PB GABSI periode 1962-1964.

Jumlah anggota GABSI sudah semakin banyak dan di daerah-daerah dibentuk Komda yang waktu itu terdiri dari delapan propinsi, yaitu:

1. Sumatra Utara T. Ma’moen
2. Sumatra Barat S.Dt.Mangkuto Sati
3. Sumatra Selatan R.F. Ratulangi
4. Jakarta Raya Wie Kian Hay
5. Jawa Barat Achmad Suwarno
6. Jawa Tengah & D.I.Y. Achmad Kuat
7. Jawa Timur F.X. Pur Byantara
8. Sulawesi Selatan S.O. Yoe Dg.Nai (Penulis adalah pemerhati dan pemain bridge).



source https://www.tribunolahraga.com/2021/08/18/olahraga-masyarakat/68556/

Lainnya

No comments:

Post a Comment

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *